cambuk pecut stigi asmaul khusna

Translate

Krus Mata Uang

    Total Tayangan Laman

    Follow by Email

    Arsip Blog

    Label 3

    ">Index »'); document.write('

    ?max-results=10">Gelang Kayu Gaharu');
    • ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");

    Ramuan Madura

    Souvenir

    Pengunjung Online

    Facebook

    Cari Blog Ini

    Memuat...

    Formulir Order via Email

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Siapa Kader Demokrat Bakal Jadi 'Kartu Mati'?



    Headline
    Susilo Bambang Yudhoyono - inilah.com/Ardhy fernando
    Oleh: Herdi Sahrasad
    Nasional - Jumat, 10 Februari 2012 | 20:43 WIB
    TERKAIT
    Diberdayakan oleh Terjemahan
    INILAH.COM, Jakarta – Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sudah memberikan isyarat pembersihan kader bermasalah di tubuh Partai Demokrat. Melihat makin memburuknya citra Demokrat di mata publik, SBY dikabarkan mau menegaskan kembali sikap partai untuk mencopot kader yang terjerat perkara korupsi. Siapa bakal jadi ‘kartu mati’?
    Pernyataan pencopotan itu dikabarkan bakal disampaikan berbarengan dengan agenda Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta, akhir Februari 2012. Jika ini benar dilaksanakan, hampir pasti segenap kader bermasalah korupsi bakal kena bidik dan tersingkir menjadi ''kartu mati''.
    Akibat skandal korupsi berjamaah menghantam Demokrat yang melibatkan sejumlah oknum elitnya, membuat posisi Cikeas juga kian rawan ‘tembak’. Tudingan para aktivis dan pengamat tentang adanya konspirasi korupsi di tubuh Demokrat, sementara Cikeas dinilai membiarkan hal itu terjadi, sudah dilontarkan belakangan ini karena sikap SBY yang kelewat hati-hati dan kurang tegas.
    “SBY mustinya tegas membersihkan kader busuk, bukan berwacana yang mengesankan dirinya lemah pula di hadapan para kadernya sendiri. Ini dilema,” kata pengamat politik UIN Jakarta Abas Jauhari MA.
    SBY kini mengeluarkan isyarat bakal membersihkan kader busuk. Akibatnya, tidak hanya Nazaruddin dan Angelina Sondakh yang bakal kena hantam, posisi Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum juga kian tersudut.
    Pasalnya, politik uang dalam pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat pada kongres di Bandung pada 2010 adalah fakta yang tak terbantahkan. Itulah pintu masuk penonaktifan Anas Urbaningrum dari jabatan ketua umum.
    Koordinator Divisi Kaderisasi, Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan DPD Partai Demokrat Riau Ronny Riansyah di Pekanbaru, kemarin, mengakui bahwa politik uang dalam kongres itu sebuah fakta dan kebenaran.
    Ronny yang menjadi peserta kongres itu menuturkan bahwa setiap Ketua DPD dan DPC mendapat uang dari kubu Anas sebesar Rp50 juta hingga Rp100 juta. "Pada saat uang diserahkan tidak menyuruh memilih Anas, cuma dibilang ini titipan dari Mas Anas Urbaningrum," katanya.
    Sebelumnya, mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Diana Maringka mengakui menerima uang dari kubu Anas. Uang itu diterima bertahap. Hari pertama Rp30 juta. Sisanya, US$7.000, diserahkan 3 jam menjelang pemilihan. Uang itu diberikan kepada 11 pengurus DPC dan Diana mengaku menerima Rp5 juta.
    Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Advokasi dan Hukum Benny K Harman yang pernah bergabung dalam tim sukses Anas di Jakarta, kemarin, mengakui ada pemberian uang untuk akomodasi para kader daerah.
    "Apa bisa orang ke Bandung tanpa uang? Apa kita bawa (pengurus) DPC pakai jin? Ini demokrasi. Tim saya kan kasih service, why not? Kalau orang memilih karena (uang) itu, urusan mereka toh," tukasnya.
    Pernyataan Benny itu juga menunjukkan maraknya politik uang dan merusak image Demokrat yang berusaha tampil santun, cerdas, bersih dan mempesona. SBY pun kini kebanjiran masalah karena berbagai pengakuan bahwa ada pembagian uang dalam kongres Demokrat di Bandung itu. Politik uang ini kian memperparah buruknya citra Demokrat, meski bukan isyarat kiamat.
    Elite Cikeas sebenarnya sudah menaruh harapan agar kader bermasalah mau berkorban demi nama besar Partai Demokrat, bukan malah bertahan dengan berbagai alasan yang makin jadi beban bagi SBY dan Demokrat. [mdr]

    'Kaki' Anas Urbaningrum Kian Dilumpuhkan



    Headline
    Anas Urbaningrum - inilah.com/Agus Priatna
    Oleh: R Ferdian Andi R
    Nasional - Kamis, 9 Februari 2012 | 20:32 WIB
    TERKAIT
    Diberdayakan oleh Terjemahan
    INILAH.COM, Jakarta - Pidato Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY Minggu (4/2/2012) lalu sama sekali tak menjadikan hingar-bingar suasana internal partai meredup. Justru, secara sistemik manuver yang muncul kian melumpuhkan 'kaki' Anas Urbaningrum.
    Sikap SBY merespons kasus internal Partai Demokrat yang menegaskan tidak akan melengserkan Anas Urbaningrum dari kursinya sebelum proses hukum di Komisi Pemberantsan Korupsi (KPK), nyatanya tak linier dengan praktik di lapangan.
    Dalam kenyataan praktik politik di lapangan, berbagai manuver muncul dari kader partai justru tidak bisa dilepaskan dari tudingan bahwa ada'restu' dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY. Sebut saja keberadaan Forum Deklarator dan Pendiri Partai yang bakal menggelar pertemuan dengan mantan Pengurus DPC-DPD se-Indonesia periode 2001-2005. SBY dalam forum itu sebagai Dewan Pembinanya.
    Meski Ventje Rumangkang, inisiator pertemuan tersebut menampik bila forum tersebut ditujukan untuk mendongkel Anas Urbaningrum, sulit ditepis resonansi politik yang muncul dalam pertemuan yang diperkirakan tak sekadar pertemuan veteran Partai Demokrat semata. Suara forum yang diinisiasi bekas Ketua Umum Partai Barisan Nasional (Barnas) ini sesuai konstitusi partai memang tidak terakomodasi.
    Manuver yang terbaru, pergantian Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat dari Amir Syamsuddin kepada TB Silalahi juga dinilai sebagai upaya melumpuhkan kepemimpinan Anas Urbaningrum. "TB Silalahi untuk melumpuhkan 'bebek' yang sudah lumpuh," kata sumber INILAH.COM di internal Partai Demokrat yang memaparkan dampak politik keberadaan TB Silalahi di Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Kamis (9/2/2012).
    TB Silalahi menyebutkan pihaknya akan memanggil kader-kader Partai Demokrat yang memperkeruh soliditas Partai Demokrat. "Semua yang bicara itu akan kita panggil. Tidak hanya satu orang tapi semuanya dipanggil," katanya.
    Menariknya, di tengah kondisi seperti saat ini, salah satu bekas Ketua DPC Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Diana Maringka, mengaku menerima uang Rp30 juta dan tujuh ribu dolar Amerika Serikat (AS) serta satu unit BlackBerry saat Kongres Partai Demokrat yang digelar di Bandung, akhir Mei 2010 lalu.
    Pemberian uang tersebut, menurut Diana, dimaksudkan agar memilih Anas Urbaningrum dalam Kongres II Partai Demokrat. Dia mengaku siap mengembalikan uang tersebut. Hanya saja, yang bersangkutan mengaku tidak memiliki bukti penerimaan politik uang saat kongres.
    Wakil Direktur Eksekutif DPP Partai Demokrat M Rahmad mengatakan terlalu berlebihan memakai teori konspirasi dalam melihat kondisi Partai saat ini. Menurut dia, seperti penempatan TB Silalahi sebagai Sekretaris Dewan Kehormatan merupakan pilihan yang tepat. "Jadi jangan memakai kacamata konspirasi. Pak TB Silalahi guru kami," tepis Rahmad melalui saluran telepon.
    Terkait keberadaan TB Silalahi sebagai Sekretaris Dewan Kehornatan Partai Demokrat, sejak Kamis (9/2/2012) pagi beredar BlackBerry Messenger (BBM) berantai yang menyebutkan tentang pemecatan Sekretaris Divisi Pembinaan Organisasi Sudewo dari posisinya. Sekadar informasi, Sudewo selama ini memang dikenal sebagai inner circle Anas Urbaningrum.
    Namun saat dikonfirmaasi tentang informasi tersebut, Sudewo membantah. "Tidak ada pemanggilan oleh Dewan Kehormatan. Informasi ini sengaja disebar oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Saya masih di DPP Partai Demokrat," tepis Sudewo melalui saluran telepon. [mdr]

    TB Silalahi Bidik Anas Urbaningrum?



    Headline

    Anas Urbaningrum - inilah.com
    Oleh: R Ferdian Andi R
    Nasional - Rabu, 8 Februari 2012 | 21:27 WIB

    TERKAIT

    Diberdayakan oleh Terjemahan
    INILAH.COM, Jakarta - Pergantian Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat dari Amir Syamsuddin ke TB Silalahi bukankah pergantian biasa. Pergantian ini sulit dilepaskan dari carut-marut di internal Partai Demokrat terkini. Apa dampak politik dari pergantian ini?
    Status BlackBerry Messenger (BBM) salah satu loyalis Anas Urbaningrum, Rabu (8/2/2012) siang cukup menggelitik. Di layar telepon pintar itu tertulis "Opsus Opung Berhasil".
    Secara lugas, yang bersangkutan menyebutkan pergantian Sekretaris Dewan Kehormatan dari Amir Syamsuddin ke TB Silalahi jelas memiliki implikasi politik yang tidak sederhana. "Pergantian itu untuk mempersilakan eksekutor naik panggung untuk membidik Anas Urbaningrum," ujar sumber tersebut kepada INILAH.COM melalui BlackBerry Messenger (BBM) di Jakarta.
    Namun penjelasan resmi dari anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Jero Wacik menyebutkan, penggantian Sekretaris Dewan Pembina hanya rotasi biasa karena semata-mata kebutuhan para personil anggota Dewan Kehormatan.
    "Dulu Pak Amir Sekretaris Dewan Kehormatan, dia bukan menteri, yang dua menteri yaitu saya dan Mangindaan. Jadi dia bisa full time. Sekarang Amir jadi menteri, tiga-tiganya menteri sibuk semua, sehingga ditukar ke Dewan Pembina," jelas Jero, di kantor Presiden RI, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
    Adapun alasan penunjukkan TB Silalahi sebagai pengganti Amir, Jero menjelaskan, karena pensiunan letnan jenderal itu punya waktu cukup untuk melakukan pengawasan internal. "TB Silallahi jadi Sekretaris Dewan Kehormatan, jadi bisa full time ngurusi kader yang perlu dipanggil atau ditanya," imbuhnya.
    Pergantian ini masih tekait dengan pidato SBY Minggu (4/2/2012) lalu yang menegaskan soal bersih-bersih di internal Partai Demokrat. Pergantian ini jelas secara normatif dimaksudkan untuk memaksimalkan program bersih-bersih di internal Partai Demokrat. Pertanyaannya, apakah efektif tujuan bersih-bersih menggunakan tangan TB Silalahi?
    Jika merujuk hubungan TB Silalahi dan SBY bukankah hubungan yang biasa. Keduanya jebolan militer. Antara TB Silalahi dan SBY ibarat mentor dan kader. TB Silalahi pernah didapuk sebagai Penasehat Presiden pada 2004. Dua tahun berikutnya, TB Silalahi ditunjuk Presiden SBY sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah.
    Pada 2007, pria kelahiran 17 April 1938 ini ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang Pertahanan dan Keamanan. Saat era Orde Baru TB Silalahi ditunjuk sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) pada 1993. Sebelumnya, pada 1988, dia didapuk sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi.
    Dari sisi usia, TB Silalahi cukup sepuh dalam melakukan gerakan politik. Namun kharisma politik TB Silalahi tapi bisa ditutupi. Apalagi, sebagai senior SBY, aura kewibawaan TB Silalahi cukup kuat.
    Pergantian ini seolah menggenapkan gerakan Forum Deklarator dan Pendiri Partai Demokrat yang diinisiasi oleh pendiri Partai Demokrat Ventje Rumangkang yang bakal mengumpulkan pengurus DPC dan DPD se-Indonesia periode 2001-2005 akhir Februari dan akhir Maret. Meski menolak pertemuan itu disebut sebagai upaya menggoyang Anas, sulit ditutupi forum yang dipimpin Ketua Dewan Pembina SBY itu bertujuan untuk menggergaji kekuatan Anas. Kita lihat saja perkembangannya. [mdr]

    Entri Populer

     

    Pipa Rokok

    Tongkat

    Parfum

    IMDA Handicraft

    Cincin

    Keris

    Tasbih

    Kalung

    Peralatan Dapur